Hei pembaca, ini post pertama saya setelah sekian lama mengumpulkan niat dan menyaring imajinasi. Dan hasilnya, ini dia! Imajinasi saya hanya tersaring ampasnya..
Kemarin saya dan keluarga pergi ke Bandung dengan rencana awal ke laboratorium untuk rontgen gigi dan menghabiskan uang THR ke IP (Istana Plaza) karena letak lab itu dengan IP cukup dekat. Actually, lab yang saya datangi adalah lab yang salah. seharusnya saya pergi ke lab di Jl.Naripan bukan Padjajaran. Well, karena hari sudah siang kami memutuskan untuk makan siang di IP. You know what? mie hotplate saus teriyaki itu membuat hidup saya sempurna. Maknyuss! Rasanya terbayang sampai sekarang. Itu fakta. Sembari menjelajah IP, kami menemukan Gramedia. Ya tempat ini yang saya cari. Dan hal-hal inilah yang saya tangkap dari kunjungan ke Gramedia:
1.Don’t waste the time
Saat itu jam sudah menunjukkan jam..kulit kurang bulu. Saya tidak bawa jam, yah kira-kira sudah lewat dzuhur. Sedangkan saya masih berpikir buku apa yang akan saya beli. Hurry up!
2.Bawalah kamus ke toko buku
Buku-buku jaman sekarang judulnya nyaris semua berbahasa Inggris. Kenyataannya saya tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik. Nyesel banget dengan kekurangan saya yang satu ini. Lain kali saya akan bawa kamus atau semacamnya.
3.Siapkan tenaga untuk bukumu
Jumlah halaman novel banyak juga ternyata, rata-rata ratusan. Dan di tangan saya sudah terjinjing lima buku. Berat banget! Untung saja mie hotplate super itu memberikan cadangan energi. Mie hotplate, you’re everything!
4.Umur mengubah segalanya
Berhubung saya jarang mengunjungi toko buku, ternyata selera buku saya sudah jauh berbeda. Novel anak langganan saya sudah tidak dilirik sama sekali. Sesampainya di sana, mata saya langsung tertuju ke bagian teenlit. Ya saya baru sadar akan hal itu. And now, I love teenlit!
5.Hidup itu pilihan
Honestly, saya tidak suka memilih. Tapi apa boleh buat, saya harus memilih satu dari sekian teenlit karena saya tidak membawa seluruh uang THR. Mau minta ke mamah, ternyata susah juga cari orang di toko buku. Setelah tersaring dua buku, saya harus menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam untuk mengambil keputusan. Finally, I chose ‘Autumn in Paris’ yang sudah saya baca 215 halaman dari 264 halaman. Nice book!
Sayangnya saya tidak membeli seri pertamanya ‘Summer in Seoul’ berhubung harganya lebih mahal. Kalau ada sumur di ladang, saya akan membeli semua serinya; Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, and Spring in London juga Manjali dan..apa gitu, saya lupa. Takutnya salah sebut. Ga penting banget ini tulisan hahaha tapi saya harus memenuhi schedule liburan saya, walaupun sepertinya ga akan sempet bikin novel. Maaf kalau terkesan aneh ^^